Pura Campuhan Windhu Segara


Hari itu bertepatan dengan peringatan hari raya Saraswati di Bali, kami menyempatkan untuk tirta yatra ke Pura Campuhan Windhu Segara ( link Google Maps ). Kami memilih pura yang ada di sekitar wilayah dekat dari kota Denpasar karena mempertimbangkan waktu yang sudah  menjelang siang. Usai melakukan persembahyangan hari raya Saraswati di rumah, tempat usaha dan sekolah anak - anak, kami pun berangkat. Berbekal sedikit informasi yang kami dapat dari mbah google serta pengalaman teman - teman kami pun berangkat. Sarana persembahyangan yang kami bawa adalah dua pejatian, 4 kelapa gading ( bungkak ) karena kami berempat untuk mlukat/pembersihan diri jasmani rohani, canang sari dan dupa.

Lokasi pura Campuhan windhu Segara berada di wilayah pantai Padang Galak, Sanur tidak jauh dari kota denpasar ke arah timur, kami lewat  jalur jl.hayam wuruk - jl.hang tuah - belok kiri masuk by pass Ngurah Rai - sampai perempatan selanjutnya belok kanan ikut petunjuk jalan menuju Pantai Padang Galak. Jalanan masuk tergolong sangat bagus dan lebar. Pintu masuk dijaga oleh beberapa orang pecalang dengan membayar tiket masuk ( mobil Rp 3000,- ) kami pun masuk wilayah pantai padang galak.

Aroma mistis memang terasa dikawasan ini dengan ombaknya yang galak, pasir hitam, dilengkapi dengan di sepanjang jalan sebelah kiri bekas taman wisata bali festival yang sudah tutup sekitar tahun 2000an. Tempat ini menambah suasana unik unik seram,hehe dimana bekas areal taman bali festival yang luas dengan bangunan yang ditumbuhi semak - semak. Tempat ini sepertinyacocok dijadikan wisata jelajah alam bagi yang suka tantangan horor,hehe...., tempat ini mengigatkan saya dengan film Rambo 2 dimana saat Rambo diturunkan di hutan - hutan vietnam terdapat kuil kuil Budha yang sudah ditumbuhi pohon besar dan akar - akarnya melilit kuil tersebut.



 OK lanjut ke perjalanan ke Pura Campuhan Windhu Segara ke arah timur ada jalan belok kiri berupa jalan kapur disebelah jalan  paving bibir pantai. Jika ada mobil dari depan usahakan bergiliran karena jalan tidak begitu lebar.


Menuju pura kita melewati pinggir timur taman wisata Bali Festival dulu sampai ujung jalan akhirnya sampai di areal parkiran Pura Campuhan Windhu Segara. Parkiranya cukup luas dengan pohon pohon rindang dan sedikit jalanan berdebu karena kemarau.

Bagi rekan rekan yang hendak sembahyang di Pura Campuhan Windhu Segara dan lupa atau kurang membawa sarana sembahhyang bisa didapatkan di warung sebelum masuk pura. Dari canang sari, pejatian, dupa, bungkak serta perlengkapan sembahyang bisa didapat/dibeli di warung ini. Jika lapar bisa istirahat sebentar sambil menikmati tipat cantok dan kopi hitam supaya perut tidak keroncongan saat mlukat dan sembahyang,bisa menganggu konsentrasi apalagi dihajar angin pantai yang dingin,hehe

Memasuki Kawasan Pura Campuhan Windhu Segara

Seperti biasa masuk kawasan Pura kita mengahaturkan canang sari plus dupa serta rarapan ( ue kue kecil/permen ) jika ada,  ijin dahulu.  Dan berikutnya kita haturkan canang sari seperti diatas di tiga patung Dewa Ganesha ( tengah ) , Ibu Dewi Kali ( kanan ) dan Dewa Siwa Baruna ( klo tidak salah, mohon dikoreksi ) di sebelah kanan. 


Pura ini sangat luas, persediaan canang sari yang dibawa untuk dihaturkan cukup banyak kalo saya hitung tidak salah sampai 25 canang jika semua diaturin canang sari. Ya tidak ada salahnya membawa lebih canang sari daripada kurang kan?hehe

Pemangku lanang maupun istri yang bertugas cukup banyak dan dengan ramah mengarahkan para pemedek ( orang yang mau sembahyang ). Menurut arahan dari pak mangku yang bertugas agar menghaturkan canang sari dahulu, yang paling pertama di pelinggih Dewa Siwa Baruna paling ujung menjorok ke pantai, ada umbul - umbul warna hijau, bale bale dengan kain hijau serta pelinggih memakai kain hijau. Oh ya di depan pelinggih ada kunda untuk upacara api suci atau agni hotra. Selanjutnay kita berkeliling menghaturkan canag sari, dupa dan rarapan.





Apa itu Campuhan ??? menurut ....link ini  Campuhan itu tempat pertemuan dua buah sungai (atau lebih) bergabung menjadi satu sungai. Menurut kepercayaan kuno, campuhan adalah tempat  yang mengandung kekuatan spiritual baik yang kuat.

Dari pengamatan saya Pura Campuhan Windhu Segara ini bangunan sucinya sangat beragam corak campuran Hindu, Budha, Bali,Jawa dan Sunda dilihat dari pelinggih yang ada seperti patung Trimurti ( brahma, wisnu, siwa ), simbol simbol Siwa berupa linggam / lingga yoni yang cukup banyak. Patung Dewi Kwam In, Dewa samudra dan Sang Budha. 

Bangunan tinggi di sebelah kanan identik dengan Jawa barat atau  Sunda untuk pemujaan Ibu Ratu / bunda Ratu pantai selatan, dijaga dua ekor ikan / naga, pintu masuk dijaga dua harimau putih gagah dan didalam terdapat patung Raja membawa senjata Kujang ( mengigatkan saya dengan Hyang Prabu Siliwangi  dilihat dari mahkota, wajah dan senjatanya ). Memang Jawa Barat atau Sunda identik dengan Bunda Ratu pantai selatan ( kalau tidak salah bersaudari tiga ) , Hyang Prabu Siliwangi ( raja pakuan pajajaran yang sangan melegenda/ada yang meyebut Siliwangi merupakan gelar bagi pemimpin tatar sunda agar saling mengharunkam/mewangikan atau silih wangi ) dan Bung Karno presiden pertama Republik Indonesia, ketiga tokoh ini sangat terasa jika rekan - rekan menyempatkan ke pelabuhan ratu ( karang awu, tempat meditasi bung karno ( bukit diatas hotel samudera beach ) dan sebuah kamar khusus di Samudera Beach Hotel.



Baik secara garis besar urutan persembahyangan di Pura Campuhan Windhu Segara sebagai berikut :

( 1 ) Ngaturang / mempersembahkan canang sari di setiap pelinggih yang ada ( ini kembali ke keyakinan masing - masing bisa semua pelinggih atau poin poin saja )

( 2 ) Mlukat dengan sarana Pejatian dan Bungkak ( kelapa gading ) dibimbing pemangku, bungkak menyesuaikan dengan jumlah orang yang dilukat karena dipakai masing masing ( klo 4 orang ya bawa 4 bungkak )

( 3 ) Selanjutnya akan diarahkan mandi di bawah tempat yaitu Campuhan pertemuan air sungai dan laut

( 4 ) Kemudian mlukat di Beji dimana ada 3 tempat penglukatan dan 1 terdapat gua Budha, haturkan dahulu canang sari atau canang sodaan dibimbing pemangku kemudian melakukan persembahyangan. Di beji kita nunas bija berwarna kuning dan di antara dua alis dioleskan pasir oleh pemangku.

( 5 )  Lanjut sembahyang di pura utama dibimbing pemangku, bagi yang pertama kali bisa mengaturkan pejatian, 

( 6 ) kemudian lanjut ke pemujaan Bunda Ratu pantai selatan, masuk dan sembahyang bisa bergiliran karena tempat yang tidak begitu luas, 

( 8 )  setelah itu menuju utara sebelum masuk beji ada bale disana bisa nunas paica gelang tridatu, sempatkan berdana punia karena disini disediakan kotak punia 

( 9 ) Dan terakhir di Pura Ratu Niang paling ujung selatan tempat parkiran ,bersebelahan dengan monumen peringatan tragedi jatuhnya pesawat PanAm American di singaraja. ( baca disini )



Sarana penting yang perlu dipersiapkan dari rumah : perlengkapan sembahyang ( canang sari, dupa, pejatian, rarapan ( kua kecil / permen )), bungkak / kelapa gading bagi , pakaian ganti dan jangan lupa berdana punia.

Kesan pertama kali bersama keluarga nangkil ke Pura Campuhan Windhu Segara sangat luar biasa ingin rasanya datang lagi untuk sembahyang dan mlukat. Kalau bisa mencari hari yang tidak begitu ramai pemedek yang nangkil dan kita bisa menikmati sembahyang di Pura Campuhan Windhu Segara.

sebelum pulang kita mampir dulu di warung depan pura sambil menikmati menu tipat cantok, ngopi ngopi atau kalau kita membawa anak anak bisa beli makanan dan minuman yang anget anget,hehe...

Selamat Tirta Yatra dan Mlukat di Pura Campuhan Windhu Segara pantai Padang Galak, sanur

Rahayu

Shanti.....Damai.....Peace....

Post a Comment

Popular Posts