12 July, 2010

HUTAN SANCANG

"All the lives always tempted to trade
Will they hate me for all the choices I’ve made
Will they stop when they see me again?
I can’t stop now I know who I am" ...fr.METRIC OST TWILIGHT ECLIPSE

Pagi itu hari sabtu yang indah beberapa lagu dari soundtrack ECLIPSE termasuk METRIC mengiringi perjalananku ke tempat rombongan kami berkumpul. Petunjuk kehadiran 2 ekor harimau mengarahkan kami ke arah selatan kabupaten Garut di kecamatan Cibalong yaitu Hutan Keramat Sancang. Setelah menemukan hari yg tepat kami pun berangkat menuju hutan keramat sancang. Kami berangkat rombongan ada 7 orang 3 diantaranya adalah sesepuh di bidang spiritual dan budaya. Mobil kami melaju ke arah Nagreg yg agak macet menuju Garut kota dan diteruskan ke Pameungpeuk. Perjalanan melewati perkebunan teh yg mulai sore itu berkabut dan jalanan berkelok turun menuju Pameungpeuk. Menurut informasi Hutan Sancang merupakan salah satu obyek wisata unggulan kabupaten Garut. Hutan lebat dengan kontur bebatuan dan goa - goa berhadapan langsung dengan samudera Indonesia.
SEKILAS MENGENAI SANCANG
Menurut Informasi situs wisata Garut yaitu pariwisata.garutkab.go.id hutan Sancang adalah hutan yang dilegendakan sebagai tempat Tilem (tempat hilangnya/ dalam agama hindu "Moksa" dalam sunda "Ngang Hyang" ) Prabu Siliwangi. Di hutan ini juga terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove) yang menurut kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini dipercaya sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan masyarakat lokal. Dari informasi ini kami semakin tertarik untuk berkunjung ke Sancang.
Setelah sekian jam melewati jalan berkelak - kelok kami pun memasuki perkebunan karet milik PTPN yaitu perkebunan karet Mira-Mare. Waktu menunjukkan pkl. 17.30 wib di kanan jalan ada petunjuk kecil dipasang di pohon dengan tulisan Sancang. Jalanan koral memasuki perkampungan dan kami pun langsung menuju kuncen Sancang. Memang di tempat ini banyak yang mengaku kuncen ( mungkin seluruh penghuni kampung adalah kuncen,hehehe... ). Kuncen asli atau palsu tidak masalah kami hanya perlu mereka untuk menunjukkan tempat untuk sembahyang dengan Pejatian dan rujakan komlit dengan tumpeng putih kuning,lele bakar dan bakakak ayam.
KERAMAT 7 ( Sancang 7 ) dan KERAMAT 4( Sancang 4 )
Ternyata ada 9 keramat di Sancang ini alias 9 hutan keramat ( menurut kami ini mungkin tempat pertapaan atau petilesan para karuhun kerajaan zaman dahulu seperti Galuh,Pakuan Pajajaran,dan angka 9 bisa menggambarkan mengenai Dewata Nawa Sanga / 9 dewa penguasa 9 penjuru mata angin ). Dan malam itu kami hanya memilih 2 tempat yaitu di sancang 7 dan melukat / membersihkan jiwa raga di sancang 4 yang ada goa dan air terjunya. Setelah kuncen tawasul ( semacam mohon izin kepada leluhur2/due-nya yang berada disitu/ semacam ngrajah ) kami pun menuju Sancang 4 yang ada air terjunnya.
Jalanan menurun yang gelap ( untungnya bawa Head Lamp,hehehe ) kami lalui sampai ke pinggir sungai. Kami menyeberangi rakit secara bergiliran ke seberang dipandu oleh Kuncen.
Betapa indahnya suasana di tengah hutan ini jika kita datangnya sebelum matahari tenggelam ( next time lah kita berangkat agak pagi soalnya dari bandung sekitar 5 - 6 jam perjalanan man... ).
BERSIH JIWA RAGA DI KERAMAT 4
Keramat 4 ( Sancang 4 ) berupa goa didalam air terjun, terlihat dari tempatnya sepertinya banyak yang berziarah ke tempat ini. Dupa telah dinyalakan dan pak mangku pun berdoa dengan saran dupa dan kembang. Setelah itupun kami bergiliran mandi di air terjun. Malam itu tidak terasa dingin meskipun badan telah diguyur air terjun sekian lama. Sebelum mandi tidak lupa kami berdoa memohon keselamatan sembari menaruh kembang diatas kepala. Sebelum pulang tidak lupa kami mengisi jerigen dengan air tadi untuk dibawa pulang sebagai tirta ( air yang telah diberi mantra dan disucikan ). Setelah selesai mandi kami pun kembali ke Keramat 7.
RITUAL BALI dan SUNDA DI KERAMAT 7
Dengan pakaian adat masing - masing dan sarana upacara telah di set sedemikian rupa kami pun memulai persembahyangan. Oh ya sang kuncen mohon ijin duluan untuk pamit jadi kami ditinggal ditempat keramat tersebut. Biasanya kalau kuncen asli seharusnya menemani tamu2 yang datang, tapi itu tidak masalah kami sangat menghormati mereka. Sajen Bali dengan sarana Pejatian diberi dupa, air di jerigen diberi canang sari dan dupa, rujakan komplit beserta tumpeng putih kuning, lele bakar,bakakak ayam dan menyan telah siap. waktu menunjukkan pkl. 23.30 wib dan pak mangku mulai mengucap mantra dilanjutkan dengan puja tri sandya, panca sembah kemudian Abah mulai ngrajah sunda. Suasana hening sejenak untuk meditasi merasakan gelapnya malam dan memasuki heningnya jiwa.
Setelah seluruh proses persembahyangan selesai sampai meditasi kamipun memtuskan untuk istirahat beberapa jam sambil tidur. karena saking capeknya perjalanan jauh kami pun cepat tertidur dan terbangun lagi sekitar pkl. 2.30 wib. Setelah mengepak barang kami pun kembali ke Bandung.
Post a Comment