17 July, 2009

Mengenal Dewa Siwa

Siwa (bahasa Sansekerta: शिव atau श्रीशिव, Śiva), atau kadangkala ditulis Shiva, menurut ejaan bahasa Inggris, adalah salah satu Dewa Utama,SIWA.
Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa (Çiwa / Shiva) adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur, melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga segala ciptaan Tuhan tersebut harus dikembalikan kepada asalnya (Tuhan).
Dalam keyakinan umat Hindu (khususnya Hindu India), Dewa Çiwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni :
1. Bertangan empat, masing-masing membawa:trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
2. Bermata tiga (tri netra)
3. Pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit)
4. Ikat pinggang dari kulit harimau
5. Hiasan di leher dari ular kobra
6. Kendaraannya lembu nandini
( untuk fungsinya masing2 dapat dilihat pada gambar diatas )

Orang bijaksana memberinya gelar Dewa angin dan Dewa cinta kasih. Beliau tampak sebagai Dewa yang memancarkan kasih sayang kepada makhluk hidup. Sebaliknya bagi orang yang hidupnya penuh dosa, Beliau tampak sebagai Dewa yang menyeramkan, matanya melotot dan memegang banyak senjata, seolah-olah hendak membinasakan apapun yang ada di hadapannya.
Dewa Siwa memiliki sakti Dewi Uma/Durgha/Parwati. Dewi Uma merupakan Dewi yang tampak sangat cantik dan lemah lembut sedangkan Dewi Durgha merupakan Dewi kematian yang tampak menyeramkan, mata melotot dan tangannya penuh senjata.
Di Bali, beliau dipuja di Pura Dalem, sebagai Dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya ( pelebur bukan perusak ), menjadi Panca Maha Bhuta ( lima unsur yang membentuk manusia ).
Dalam pengider Dewata Nawa Sanga, Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Beliau bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Dipuja di Pura Besakih.Dalam tradisi Indonesia, kadangkala Siwa disebut Batara Guru.
Putera Dewa Siwa
Menurut cerita-cerita keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Dewa Siwa memiliki putera-putera yang lahir dengan sengaja ataupun tidak disengaja. Beberapa putera Dewa Siwa tersebut yakni:
1.Dewa Kumara (Kartikeya) ( di Bali disebut Rarekumara atau pelindung Bayi )
2.Dewa Kala
3.Dewa Ganesa
Siwa mesti menari – Siwa Nataraja – Kasih adalah tarian kehidupan yang paling indah, karena ia merupakan esensi kebebasan yang sejati. Namun di sisi lain sangat berbahaya dan ditakuti, karena ia menghancurkan setiap keterkondisian setiap ikatan akan berbagai kepercayaan dan ide yang dilahirkan batin, ia akan menyapu bersih batin dari apa yang diciptakan oleh batin itu sendiri. Jika batin telah kosong dari segala yang ia ciptakan, maka di situ ada keheningan yang luar biasa, sebuah dimensi yang tak terwakilkan oleh kata-kata. Jika ada kata yang sering digunakan untuk menggambarkannya, para guru berkata itulah Kasih, itulah Shiva, jika engkau bisa mencapai itu, itulah Aham Brahman Asmi (Akulah Brahman), itulah Tat Twam Asi (Akulah Itu). Ketika para guru berkata, Brahman tidak berawal tidak berakhir, maka Shiva adalah awal dan juga sekaligus akhir dari semuanya, dua hal yang sama terucap dengan cara yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak berarti, karena dualitas berakhir di situ.
Ketika Buddha berkata bahwa di setiap diri manusia ada benih ke-Buddha-an, maka sama halnya dengan Shiva, ada sinar suci-Nya di dalam setiap manusia. Semuanya sekadar metafora sedemikian hingga tidak akan tampak rumit bagi kita. Buddha tidak datang dan membuat kita secara ajaib menjadi Bodhisatta, demikian pula Shiva tidak menyihir orang, namun jika orang bersedia belajar dalam makna yang sesungguhnya, mungkin ialah Siwa Raditya, yang selalu bersinar dan tiada lagi kegelapan akan berbagai hal ke mana pun ia memandang.
So when you met Shiva, what would you say, “Oh Lord, please stay still in Kailash, let be peace upon all of us” or kind of “So shall we dance?”
" Om Namah Siwaya,Om Namah Siwaya,Om Namah Siwaya"
http://catatan.legawa.com/2010/01/pelajaran-dari-siwa/
Post a Comment